Showing posts with label Seri Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Seri Motivasi. Show all posts

Selamat Datang Masalah



Tahukah teman-teman sekalian,bahwasanya masalah yang datang kepada kita merupakan salah satu hal pembelajaran yang sangat berharga buat kehidupan kita di dunia ini, karena dengan adanya masalah itulah kita bisa belajar banyak untuk bisa menyelesaikan dan menaggulangi berbagai permasalahan hidup yang datang didalam kehidupan kita ini.
Salah satu tips tips agar kita bisa bersahabat dengan masalah dan bisa menjadikan masalah sebagi proses untuk belajar. adalah : dengan mengucapkan "  SELAMAT DATANG MASALAH "
Apabila teman-teman mempunyai dan dihampiri oleh masalah yang ada didalam kehidupan teman-sekalian, hal pertama yang harus dilakukan oleh kita semua adalah mengubah paradigma pola fikir kita terhadap masalah tersebut,kebanyakan orang yang mengalami sebuah permasalahan akan berfikr keras dan mungkin bisa juga terlebih dahulu stress dalam menghadapi masalah tersebut. coba alihkan pikiran anda terlebih dahulu dengan mengucapkan “selamat datang masalah”.hal itu akan membantu pikiran dan otak anda untuk bisa lebih menerima berbagai masalah yang terjadi pada anda dan menjadikan pikiran anda lebih bersifat positif karena penerimaan terhadap masalah tersebut,banyak sekali setiap orang yang mempunyai masalah tidak pernah menerimanya sehingga membuatnya menjadikan masalah tersebut negatif..ucapkanlah dan bentuk pola fikir anda serta penerimaan terhadap masalah tersebut dengen mengucapkan selamat datang masalah… (Sumber : Blog teman)

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran


ayah anakDi suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
Kiriman sahabat Nida Tsaura S <nida.tsaura@gmail.com>
Terima kasih atas artikelnya. Teruslah menulis sahabat..

Berilah senyum yang tulus..


Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan.  Hanya butuh sedetik untuk merubah bentuk bibir menjadi senyum.  Dan hanya butuh tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan ketulusan hati.
Tetapi kenapa hal sederhana ini jarang terlihat?  Wajah-wajah di jalan, di angkutan umum, di kantin, di kantor, bahkan di tempat wisata yang seharusnya menjadi kebun senyum, justru terlihat buram.  Kerutan-kerutan di wajah menunjukkan betapa berat beban yang harus ditanggung wajah-wajah itu.  Banyak wajah yang daerah diantara dua matanya mengkerut.  Menyeramkan dan tampak garang.  Duh...
Senyum itu sudah hilang dari wajah banyak orang.  Entah kenapa senyum – bahkan tawa – yang selalu cerah menghiasi wajah-wajah itu dari kecil, sirna begitu saja.  Sekarang, bahkan bukan hanya wajah-wajah tua dan dewasa yang telah kehilangan senyum manis.  Wajah para remaja dan anak-anak pun telah ketularan kerutan-kerutan penuh beban itu.
Senyum pada hakikatnya adalah salah satu anugerah indah dari Tuhan Yang Maha Indah.  Tuhan sengaja menganugerahkan  senyum sebagai bagian dari keindahan manusia.  Sayang, anugerah indah ini, tidak banyak ditemui di wajah banyak manusia.  Dunia akan jauh lebih indah bila penduduknya gemar tersenyum.
Hidup dan kehidupan manusia pun akan lebih indah dan menenteramkan bila kita menemui banyak senyum di sekeliling kita.  Terutama sang senyum dari wajah kita sendiri.  Bukankah sangat enak bila kita menerima senyum?  Dan bukankah jauh lebih enak bila kita lah yang memberi senyum?
Saudara, senyum yang sederhana, mudah dan gratis itu ternyata menyimpan banyak keajaiban.  Setidaknya dari berbagai pengalaman dalam hidup saya.  Yap, dalam hidup saya, saya menemui banyak keajaiban.  Bentuknya macam-macam.  Ada  kemudahan, kesehatan, kekayaan, kebaikan, solusi dan sebagainya dari sebuah senyuman.
Sang senyum – lengkungan yang menurut Pak Gede Prama bisa meluruskan banyak hal – adalah hal yang luar biasa. Ia seperti oase di tengah gurun pasir.  Ia seperti setetes air jernih dari mata air yang bisa menghilangkan dahaga.  Ia seperti udara bagi yang tercekik.  Ia seperti sumbangan uang bagi fakir miskin yang dirawat di rumah sakit.  Ia seperti mangga muda bagi ibu muda yang sedang ngidam.  Ia seperti pinjaman uang bagi yang sedang membutuhkan.  Ia juga seperti semangkuk mie instan bagi pengungsi yang kelaparan. 
Senyum pada hakikatnya adalah kebutuhan manusia.  Siapa yang senang tersenyum membuat jiwa, perasaan, pikiran dan fisiknya terpenuhi salah satu kebutuhannya.  Bila manusia tidak senang tersenyum, ada luka di jiwa, rasa dan pikirnya.  Sang jiwa yang terluka membuat hidup dipenuhi kegelisahan.  Sang rasa yang terluka membuat hidup tidak tenang.  Sang pikir yang terluka membuat hidup penuh beban.

Anda sudah memiliki cita-cita?


Anda sudah memiliki cita-cita? Jika belum, maka saya sarankan, milikilah cita-cita mulia itu. Peganglah ia erat-erat seperti engkau tengah menggenggam sejumput bulir beras di musim paceklik, yang akan engkau masakuntuk makan anak-anakmu. Dekaplah cita-cita itu, laksana engkau dekap sepenuh kasih bayi yang telah dilahirkan isterimu, yang engkau telah bertahun-tahun menantikannya. Peliharalah cita-cita itu sepenuh kasih dan cinta, maka Insya Allah, segala apa yang ada di penjuru langit dan bumi akan berdoa untukmu, agar dilapangkan-Nya jalan saat engkau dalam proses mewujudkannya.

jika Anda telah bercita-cita, dan terasa curam dan mendaki jalan untuk meraihnya, maka bersabarlah. Bersabarlah. Jika seribu langkah telah engkau tempuh, dan belum kelihatan cita-cita Anda akan teraih, maka bersabarlah. Siapa yang akan tahu, jika ternyata di langkah Anda yang ke 1001, di sanalah cita-cita Anda mewujud.

Terkait dengan cita-cita dan perjuangan meraihnya, ada dua kondisi yang bisa kita alami: berputus asa dari jalannya dan lari ke gelapnya guauntuk menjadi pecundang. Atau melakukan segala cara, meskipun jalan yang ditempuh jauh dari kebenaran. Tapi benarkah hanya dua kondisi ini yang harus kita alami? Tentu saja tidak!

Kondisi ketiga yang bisa kita lakukan, yaitu dengan tetap bersabar, segera bangkit dari keterpurukan, sembari terus mencari jalan yang tepat, baik dan benar,untuk mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan.

Kalau sudah berbicara tentang cita-cita, maka rasanya saya hanya ingin menambahkan kalimat pembuka di atas:

"Gantungkan cita-citamu setinggi langit, karena hanya langitlah yang bisa membatasi cita-citamu itu!"